MARI BERGABUNG MENJADI KADER MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA DAFTAR X

Kenapa Partai Golkar Tidak Pernah Rebound Pasca Reformasi?

Tok..Tok..Tok…. Cepi Iskandar, hakim tunggal sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan penetapan Setya Novanto sebagai tersangka korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-E) tidak sah. Itu terjadi pada 29 September, satu hari sebelum hari kesaktian Pancasila.
Keputusan ini langsung disambut begitu sinikal dan amat negatif oleh masyarakat. Kekhawatiran publik bahwa hukum pasti bisa terbeli oleh Setya Novanto itu blaaaar simsalabim terjadi. Tagar #kesaktiannovanto menjadi trending topic bahkan mengalahkan isu G30SPKI yang juga gencar karena banyak masyarakat melakukan nobar film G30SPKI. Banyak pengamat, praktisi maupun media yang mencerca keputusan kontroversial dari Hakim Cepi. Dengan nyata masyarakat tercekik sesak kecewa, menjelang putus asa mereka pada hukum, mereka menghibur dirinya dengan meme ejekan dan aneka rupa cemoohan.
Di ruang lain, di bilik tak luas yang terbatas, ada beberapa orang yang menyambut gembira keputusan praperadilan tersebut. Ada yang sujud syukur, ada yang mengajukan revitalisasi secepatnya agar para penentang Ketua Umum secepatnya disingkirkan. Dan ada juga yang tadinya menentang melihat kemenangan ini segera balik badan selamatkan diri.
The Guardian of Sense
Adegan demi adegan sandiwara keruntuhan akal sehat dimulai, untuk sementara pemenangnya di pihak papa Setya Novanto dan tentu saja ada yang kalah, yaitu para pihak yang menyebut dirinya the Guardian of sense, para penjaga akal sehat dan masa depan partai. Di sana ada Yorrys Raweyai, tadinya ada Kahar Muzakkar, dan Nurdin Halid, tapi setelah Hakim Cepi mengetok palu, Yorrys kelihatan tidak lagi bertiga, tapi sudah sendiri. Dan Yorrys menanggung pencopotan dari jabatan prestisiusnya sebagai Ketua Korbid Polhukham karena menjaga akal sehatnya, sebelumnya Ahmad Doli Kurnia (inisiator GMPG) juga sama tragisnya, diberhentikan sebagai kader Partai karena merawat akal sehatnya melihat masa depan Golkar.
Ada tokoh lainnya yang berkata ia bersujud sukur atas kemenangan tersebut padahal di hari itu ia sedang memimpin rapat sembari mencerca Papa Novanto. Ada juga yang langsung duduk manis disamping Papa Novanto diruangan Ketua Umum padahal sebelumnya ia berkata akan melempar asbak bila bertemu Novanto. Sungguh sebuah lawakan getir yang ironis dari kharakter orang perorang yang memang anti demokrasi dan pupuk segar bagi tumbuh kembangnya adat istiadat KKN.
Banyak analisa sebab musabab kemenangan Papa Novanto yang membuat orang geleng-geleng kepala. Dari analisa Papa Novanto didukung Jokowi karena ia memegang kunci dari rezim ini, atau berbalik kanannya Luhut Binsar Panjaitan sang ‘operator politik’ Rezim, hingga sudah terbelinya tiga (3) dari komisioner KPK sehingga tidak akan ada sprindik baru lagi. Informasi dan analisa hilir mudik.
Sebagai kader muda Partai Golkar, tentunya isu langitan tersebut bagi kami hanya merupakan bumbu kecap perjuangan yang tidak ada pengaruhnya sama sekali. Analisa langitan tersebut hanya menjadi teman kami menikmati pahitnya kopi dan gurihnya kue pancong di warung-warung pinggir jalan.
Inilah learning process kami, mencerna proses konflik ini menjadi ilmu, menggugu, memilah dan mengamati sikap para senior dan elit Partai Golkar, sungguh mencengangkan. Ini tidak akan hilang dalam jejak ingatan digital kami. sebagai generasi Google, data dan sejarah masa lalu begitu mudah untuk kami panggil kembali.
Tapi bukan itu yang penting. Anda mau tahu apa yang sangat penting?
Mari lihat Golkar kita, Partai yang bertagline “Suara Golkar, Suara Rakyat”. Berikut kilas balik dari data yang mencemaskan kami, (Maaf, syarat cemas harus sehat akalnya dulu),
Pemilu 1997
Pada pemilu tahun 1997, ketika Orde Baru sedang jaya-jayanya Golkar meraih 74,51% suara dengan meraih 325 kursi dari 425 yang ada. Sebuah gambaran kejayaan yang tak tertandingi pada eranya sekaligus awal dari kehancuran karena terlambat menyadari bahwa tak selamanya Demokrasi bisa terkekang dan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme seenaknya dilakukan.

PEMILU 1999
Inilah awal ujian sebenarnya dari Partai Golkar, era dimana proses reformasi menjadi tak terelakan dan Partai Golkar harus beradu secara adil dengan partai politik lain sembari mengalami cercaan dan tekanan dimana-mana karena dianggap sebagai simbol dari Orde Baru, Anti Demokrasi dan Simbol KKN, Suara PG rontok total hingga 22,4%, turun hingga 50% lebih. Namun tetap PG menjadi nomor dua dengan 120 kursi, tetap lebih banyak dibanding 45 partai-partai baru lainnya meski kalah jauh dibanding PDIP yang saat itu menjadi simbol perlawanan hingga mampu meraih 33,74% suara dengan 153 kursi. Kehebatan PG pada saat ini bukanlah seberapa banyak merebut suara, tapi bisa bertahan dari kehancuran dan tuntutan pembubaran. Ini adalah hukuman dari publik terhadap dua isu utama reformasi yaitu Demokrasi dan KKN.

Pemilu 2004
Ditengah-tengah hantaman besar yang melanda Partai Golkar, dari Ketua Umum Akbar Tandjung yang menjadi tersangka, gerakan demonstrasi “Aliansi Bubarkan Golkar” hingga dekrit presiden untuk membubarkan Partai Golkar mampu dilewati secara sempurna bahkan mampu meraih posisi nomor satu dengan meraih 21,58% suara untuk 128 kursi, beda tipis dengan PDIP yang turun menjadi nomor dua di 18,53% suara untuk 109 kursi.
Akbar Tandjung (tentu tidak sama dengan Setya Novanto, profile politiknya berbeda begitupula record perjalanan politik berbeda jauh). Kapital politik dirinya mampu tampil sebagai pemimpin melewati badai tersebut dengan melakukan konvensi calon presiden Partai Golkar. Manuver ini mampu melambungkan rating posisi PG yang sebelumnya anjlok karena status tersangka kasus Bulog Gate yang melanda ketumnya. Konvensi itu adalah jawaban Golkar atas tuduhan Anti Demokrasi. Calon Presiden dikontestasikan adalah hal luar biasa saat itu ditengah bau otoritarianisme Golkar jaman Orba. Kemenangan awal dari proses reformasi di internal PG meraih kembali kepercayaan publik di era reformasi untuk berkomitmen mengawal proses reformasi dan menjadi garda terdepan melawan KKN. Masyarakat melihat Partai Golkar mampu membawa perbaikan demokrasi dalam partainya meskipun Utang besar citra KKN nya belum bisa dibersihkan.
Bagi kami, meskipun posisi satu tapi suara PG tetap turun dari 22,4% jadi 21,58%. Apa substansinya ya turun suaranya. Kemenangan ini bukan karena keberhasilan PG merebut suara baru akan tetapi karena efek kegagalan PDIP untuk membawa isu utama reformasi yaitu demokrasi dan KKN.

Pemilu 2009
Konvensi Capres sebagai simbol hawa segar demokrasi di PG dimatikan Jusuf Kalla untuk memuluskan jalannya menjadi calon tunggal calon presiden Partai Golkar. Hasilnya bisa dilihat, publik kembali menghukum Partai Golkar dengan hanya meraih 14,45% suara untuk 107 kursi. Kekalahan yang ironis dimana ketua umum PG saat itu merupakan seorang Wakil Presiden, pengusaha yang hebat dengan logistik yang kuat dan harus mengalami kekalahan beruntun, kalah di pileg dan di pilpres. Hukuman yang setimpal dari publik untuk sebuah ketidakkonsistenan dalam mengawal narasi demokrasi dan KKN.

Pemilu 2014
Pemilu ini merupakan awal kepiluan dari Partai Golkar dalam era millenial. Dipimpin oleh ketua umum Aburizal Bakrie, PG tetap tidak mampu membawa dua narasi tersebut baik disisi demokrasi maupun KKN. Meskipun dalam persentase suara naik sedikit menjadi 14,75% suara namun dalam sisi perebutan kursi tambah anjlok menjadi 91 kursi. PDIP mampu kembali rebound menjadi pemenang dan Partai Demokrat menjadi pesakitan karena dianggap sebagai representasi Korupsi dimata masyarakat.
Saat itu PG dipimpin oleh sosok yang luar biasa kuat yaitu Aburizal Bakrie. Pengusaha besar, salah satu pribumi terkaya di Indonesia, kuat jaringan politik, kuat manuver dan bargain di mata rezim akan tetapi terbukti ternyata narasi kekuasaan dan kekuatan uang tidak mampu mengangkat apalagi me-‘rebound’ kejayaan Partai Golkar. Terbukti betapa fatalnya bila narasi demokrasi dan KKN tetap dipertahankan jadi adat kebiasaan oleh sebuah Partai.

Narasi Partai Golkar Untuk 2019
Mari kita lihat narasi apa yang dibangun oleh Partai Golkar saat ini dibawah kepemimpinan “the untouchable man” Papa Novanto. Kita bisa bangga dengan tingkat keterkenalan pemimpin partai kita. Siapa yang tidak kenal ketua umum kita, coba saja google nama Setya Novanto. Lihatlah di artikel yang muncul dan image yang ada. Tengoklah di sosial media nama beliau nama beliau ada dimana-mana. Meme-meme, video satir hingga lagupun muncul dari masyarakat menggaungkan nama Papa Novanto.
Novanto adalah lambang menghambanya Partai Golkar pada penguasa dengan membiarkan partainya dipimpin oleh sosok kontroversial yang sudah dari awal akan membebani langkah partai dengan PR kasus yang ada didepannya.
Novanto adalah narasi hebatnya sebuah kekuasaan mengangkangi hukum, menghancurkan logika dan kehebatan kuasa sebuah logistik. “Siapa lagi sosok di Golkar yang punya liquid cash Rp 2.5 trilyun kalau bukan Novanto” ujar senior yang menjabarkan alasan dia meyakini Novanto akan kokoh hingga 2019. Sungguh kuat narasi kuasa uang tersebut. Sungguh rindang naungan beringin untuk para penyembah kekuasaan uang tersebut.
Apakah tagline “Suara Golkar, Suara Rakyat” hanyalah sebuah slogan ataukah masih menjadi komitmen dari Partai Golkar? Sangat yakinkah kita dengan bukti sejarah yang telah ada bahwa pameran kekuatan dari kekuasaan maupun uang ini akan menjadi jalan kembali kemenangan Partai Golkar?
Partai seperti apakah yang akan kalian wariskan kepada kami?